Halaman.co.id |Rio de Janeiro, Brasil – Para pemimpin negara anggota BRICS secara tegas mengecam serangan militer yang dilakukan terhadap Gaza dan Iran dalam pertemuan puncak yang berlangsung di Rio de Janeiro, Brasil, akhir pekan ini. Dalam komunike resmi, BRICS menyebut aksi-aksi tersebut sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan Piagam PBB.
Kecaman itu disampaikan pada KTT BRICS 2025 yang dihadiri 11 negara anggota, termasuk Indonesia yang baru resmi bergabung tahun ini. Meski beberapa pemimpin utama seperti Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin tidak hadir secara langsung, delegasi mereka tetap berperan aktif dalam perumusan sikap bersama.
“BRICS mengecam serangan terhadap Republik Islam Iran serta operasi militer yang terus berlangsung di Gaza,” tulis komunike tersebut. “Kami menuntut penghentian segera kekerasan, penarikan pasukan dari Gaza, serta mendesak pemberian status keanggotaan penuh Palestina di PBB.”
Selain isu Timur Tengah, para pemimpin BRICS juga menyoroti perlunya reformasi lembaga-lembaga internasional seperti Dewan Keamanan PBB, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Bank Dunia. Mereka menilai struktur saat ini belum mencerminkan realitas geopolitik global yang baru.
Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, selaku tuan rumah, menekankan pentingnya BRICS sebagai kekuatan alternatif global yang menjunjung multilateralisme. “Kami tidak ingin membentuk blok tandingan, tetapi mendorong dunia yang lebih adil dan inklusif,” ujarnya dalam pidato pembukaan.
KTT kali ini juga menjadi panggung bagi penolakan terhadap sanksi sepihak dan praktik proteksionisme. BRICS mengkritik keras kebijakan tarif tinggi yang diterapkan oleh Amerika Serikat, terutama di era Presiden Donald Trump, sebagai penghambat perdagangan global yang adil.
Meski diwarnai ketidakhadiran beberapa pemimpin dan ketegangan antaranggota terkait konflik regional, KTT BRICS 2025 menunjukkan bahwa aliansi ini semakin aktif memainkan peran strategis dalam urusan global.








