Cegah Malaria, Lokasi PON Papua di Fogging

Ilustrasi/Pixabay
banner 468x60

Papua – Gigitan nyamuk di tubuh kita bukan saja meninggalkan rasa gatal. Satwa kecil bersayap dengan moncong lancip untuk mengisap darah itu adalah penyebar sejumlah penyakit. Nyamuk Anopheles menyebabkan malaria dan kaki gajah (Filariasis/Elephantiasis) dan Aedes aegypti penyebab demam berdarah (dengue).

Di seluruh dunia, dari catatan Badan Kesehatan Dunia (WHO), ada 345 ribu jiwa masyarakat meninggal dunia akibat menderita malaria dan tren kasus positif malaria pun makin meningkat setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri, tren kasus malaria di seluruh provinsi turun dari 465.700 kasus positif pada 2010 menjadi 235.700 pada 2020. Kendati demikian, 86 persen dari kasus positif malaria tersebut terdapat di Provinsi Papua, sisanya berada di Papua Barat dan Maluku.

Bacaan Lainnya
banner 300250

Penyakit malaria disebabkan gigitan nyamuk Anopheles betina pembawa parasit Plasmodium. Parasit tersebut memiliki kemampuan berkembang biak pada organ hati seseorang yang terkena gigitan, saat kondisi imun sedang lemah. Gejala yang timbul akibat kondisi itu umumnya berupa demam, kepala pusing hingga mual yang muncul pada sepekan usai gigitan nyamuk. Bahkan dalam situasi tertentu, kombinasi dari tiga gejala itu kerap dialami penderita malaria.

Khusus di Papua sebagai endemi tinggi malaria atau kategori merah, kasus terbanyak disumbang oleh empat kabupaten/kota. Yakni Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Merauke, dan Kabupaten Timika. Demikian dikatakan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Didik Budijanto, dalam siaran persnya, pada Selasa (21/9/2021).

Empat kabupaten/kota seperti disebutkan Didik merupakan klaster pelaksana Pekan Olahraga Nasional 2020 di Papua yang akan dilaksanakan 2–15 Oktober 2021. PON Papua ini akan dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo di Stadion Lukas Enembe, Kampung Harapan, Kelurahan Nolokla, Distrik Sentani Timur, dan Kabupaten Jayapura.

Didik mengatakan, perhelatan PON yang digelar untuk ke-20 kalinya itu akan menjadi perhatian khusus bagi pihaknya dalam upaya pengendalian vektor malaria di bagian hulu. Untuk itu penting bagi para peserta PON maupun wisatawan domestik yang terlibat dalam kegiatan tersebut demi mengetahui ciri dari ragam nyamuk pembawa sejumlah penyakit di Papua untuk diantisipasi.

Terlebih, di antara masyarakat masih menganggap bahwa malaria adalah penyakit yang biasa, sehingga kurang perhatian. “Ini memberikan kami suatu informasi kepada masyarakat bahwa meskipun malaria ini bisa dicegah dan diobati tetapi juga dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu konsep bagaimana mencegah pada masyarakat supaya tidak terjadi penyakit ini menjadi tantangan tersendiri,” katanya.

 

Fogging Tiap Pekan

Oleh karena itu, Kemenkes mengirimkan sejumlah personel pengendali vektor untuk melakukan pengasapan (fogging) minimal sepekan sekali di seluruh fasilitas penginapan, utamanya di bagian dinding serta lokasi yang berdekatan dengan habitat nyamuk. Kemudian di setiap arena yang menggelar pertandingan pada pagi hingga sore, pengasapan minimal sepekan sekali.

“Kalau untuk pertandingan malam, maka ada upaya-upaya yang kita sepakati bersama bahwa setiap arena maupun hotel, wisma, penginapan atlet dan pelatih harus bebas dari vektor. Maka setiap hari dua sampai tiga jam sebelum pertandingan dimulai kita fogging dulu,” katanya.

Selain itu, upaya screening terhadap pendatang di PON Papua juga dilakukan pada saat kepulangan. Sebab seseorang yang telah digigit Anopheles bisa saja membawa parasit yang bersarang di dalam tubuh hingga ke daerah asal. “Setelah pulang, atlet kita monitor jangan sampai dia membawa vektor ke daerah bebas malaria,” katanya.

Ini merupakan hasil analisa pihak Didik terhadap perilaku Anopheles yang berbeda dengan Aedes aegypti. Meski sekilas rupanya sama, Anopheles memiliki ciri yang lebih spesifik seperti bertubuh datar dan bagian perut yang agak memanjang dari Aedes Aegypti. Anopheles lebih suka keluyuran di malam hari, mulai pukul 18.00 hingga menjelang pagi hari.

Nyamuk Aedes Aegypti lain lagi, karena lebih senang menggigit manusia saat jam kantor atau ketika orang-orang mengawali aktivtas rutin, mulai pukul 08.00 hingga 11.00 dan berlanjut pada pukul 14.00 hingga 17.00 WIB.

Ciri lain dari Anopheles adalah kebiasaannya yang cenderung hinggap di dinding. Pada prinsipnya, kata Didik, nyamuk tersebut lebih senang berada di tempat lembab, seperti dinding atau dekat dengan tanah dan saluran air yang kotor. Sebaliknya, nyamuk demam berdarah lebih senang berkembang biak di penampungan air yang jernih.

Ikhtiar mencegah penyakit malaria juga perlu dilakukan lewat kesadaran diri masyarakat dengan menjaga pola hidup sehat agar imunitas tubuh tetap terjaga optimal. Asupan obat pencegah pun direkomendasikan oleh kalangan dokter. Salah satunya adalah obat antibiotik doxycycline yang digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit akibat infeksi bakteri, khususnya malaria.

Menurut Didik obat tersebut bukan merupakan doping sehingga tidak akan mengganggu penampilan atlet. “Pemerintah memang mensyaratkan pemberian doxycycline ketika ada yang mau ke Papua. Seminggu sebelumnya minum obat itu untuk mencegah supaya tidak terinfeksi gigitan nyamuk Anopheles,” katanya.

Menurut Didik sudah sejak lama program itu dihapus oleh pemerintah. Sebab, penanganan malaria lebih mengutamakan pencegahan. Namun seiring penyelenggaraan PON Papua, Kemenkes kembali merekomendasikan pemberian obat tersebut kepada peserta PON. Doxycycline dianjurkan untuk diminum sebanyak satu tablet 100 miligram per hari.

Dikonsumsi mulai dari dua hari sebelum pergi ke daerah endemi malaria sampai empat pekan setelah pulang ke tempat asal. Obat tersebut dikonsumsi pada jam yang sama setiap hari. Menurut dokter Maria Ulfa seperti dikutip dari Antara, sebaiknya obat tersebut dikonsumsi setelah makan malam atau dua jam sebelum tidur. Terhadap penderita penyakit tukak lambung atau maag akut disarankan untuk mengombinasikan asupan obat maag dengan doxycycline.

Obat doxycycline tersebut relatif aman bagi penggunanya selama dikonsumsi sesuai anjuran. Namun untuk beberapa komorbid tertentu, dapat dikonsultasikan kepada dokter. Para peserta PON Papua juga disarankan untuk memakai pakaian tertutup di bagian lengan serta kaki demi perlindungan ekstra dari gigitan nyamuk.

Bahkan saat tidur, jika diperlukan dapat menggunakan kelambu berinsektisida yang telah disiapkan pemerintah di lokasi penginapan. “Kami juga menyarankan pakai repelen atau insektisida yang dapat mencegah gigitan nyamuk. Bisa dioleskan ke bagian tubuh yang rawan terkena gigitan,” katanya.

Menjaga kebugaran tubuh sebelum melakukan perjalanan menuju ke lokasi penyelenggaraan PON di Papua, penting untuk tetap diperhatikan. Sebab di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Jangan lupa untuk tetap menjaga protokol kesehatan memakai masker, mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun serta menjaga jarak.

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *