PPKM Darurat, Kasus Covid-19 Mengalami Tren Penurunan

Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito
banner 468x60

Jakarta – Situasi pandemi beranjak membaik. Salah satu indikatornya ialah kasus positif harian. “Dalam tujuh hari ke belakang ini, kasus positif harian telah turun sekitar 40 persen,” ujar Profesor Wiku Adisasmito, Koordinator Dewan Pakar yang sekaligus Juru Bicara Satgas Covid-19. Ia merujuk ke data kasus harian 15 Juli yang menunjukkan angka 56.577 dan data 21 Juli dengan 33.772 kasus positif baru.

Menyampaikan evaluasi pelaksanaan PPKM Darurat mingguan 15–21 Juli 2021, melalui konferensi pers virtual Kamis (22/7/2021) sore, Profesor Wiku juga menyampaikan bahwa soal penurunan kasus positif Covid-19 nasional itu didukung oleh menyusutnya keterpakaian bed di rumah sakit atau bed occupancy ratio (BOR) dari 76.26 persen ke 72,82 persen.

Bacaan Lainnya
banner 300250

Indikator lain yang menunjukkan kemajuan adalah angka kesembuhan yang oleh Profesor Wiku disebut meningkat sebesar 70 persen dalam sepekan terakhir, yakni dari 19.099 ke 32.887 kasus. “Keadaan ini patut diapresiasi. Saya berterima kasih kepada para tenaga kesehatan yang tak kenal lelah dalam merawat pasien, juga kepada pemerintah daerah yang  bergerak cepat membantu pelaporan kondisi pasien,” Profesor Wiku menambahkan.

Gambaran penurunan kasus baru Covid-19 itu tampak di sejumlah daerah. Lonjakan pasien ke RSUD  Dokter Chasbullah Abdulmadjid Bekasi tampak mulai melandai. Maka, pihak RSUD pun membongkar dua dari lima tenda triase darurat, yang digunakan untuk pertolongan pertama dan  pemeriksaan awal pasien. Tenda darurat itu telah beroperasi tiga minggu. Tiga unit tenda lainnya dibiarkan tetap berdiri untuk mengantisipasi bila lonjakan pasien terulang.

RSUD Dokter Loekminto Hadi, Kudus, juga mulai sepi dari kunjungan pasien Covid-19. BOR di situ telah turun ke level 25 persen. Bupati Kudus HM. Hartopo bahkan mempersilakan pasien Covid-19 dari  luar daerah, yang kesulitan mendapatkan perawatan, datang ke semua RS rujukan di Kudus. “Silakan RS di luar daerah merujuk ke RS Rujukan di Kudus, karena sebelumnya kami juga dibantu,” ujar Hartopo.

Bupati Kudus itu mengakui, ketika mengalami lonjakan Covid-19, sejak pertengahan Mei hingga Juni, banyak warganya yang dirawat di rumah sakit di daerah sekitarnya. Lonjakan itu mulai melandai setelah 6–7pekan berlangsung. Hal serupa terjadi di dua kabupaten tetangganya, Jepara dan Pati. Amukan Covid-19 varian Delta itu mulai mereda. BOR di Jepara 30 persen dan Pati 43 persen.

Secara umum, seperti dikatakan Profesor Wiku, BOR di wilayah Jawa-Bali mengalami kemajuan selama PPKM Darurat diberlakukan. “BOR di enam provinsi Jawa membaik, tapi Bali belum,” ujarnya.  Hal itu juga sejalan dengan kasus positif hariannya yang masih terus meningkat di Pulau Dewata.

Sejumlah indikator lainnya masih menunjukkan gambaran yang murung. “Angka kematian masih tinggi, dan mengalami kenaikan selama enam hari berturut-turut,” kata Profesor Wiku. Mengacu data 15 Juli, tercatat ada 982 kasus kematian, dan enam hari berikutnya bergerak di atas 1.000, bahkan mencapai 1.383 kasus pada 21 Juli. Untuk wilayah Jawa-Bali, angka kematian yang tinggi itu terjadi di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Situasi masih jauh dari aman. Dari sekitar 414 kabupaten-kota yang ada di Indonesia, saat ini 180 di antaranya tergolong berisiko tinggi, alias zona merah. Kondisi dengan 180 zona merah itu tercatat yang paling buruk sepanjang 17 bulan pandemi berlangsung. Zona oranye (risiko sedang) ada di 181 kabupaten-kota, zona kuning (risiko rendah) di 53 daerah dan zona aman hanya ada di dua tempat.

Dalam peta zonasi risiko nasional, wilayah Jawa-Bali yang paling berisiko tinggi. Di Jawa Timur dari 38 kabupaten kota yang ada, 33 termasuk zona merah. Di Jawa Tengah, 29 dari 38  kabupaten-kota yang tergolong  zona merah dan di Jabar 21 dari 25 kabupaten kota ialah zona merah. Rona merah ada di mana-mana.

Profesor Wiku mengatakan kebijakan akan mengacu pada kondisi daerah setempat. Kabupaten dan kota yang berisiko rendah bisa menjalankan PPKM level 1, namun yang berisiko tinggi tetap akan dilakukan sejumlah pembatasan yang ketat (level 4).

Untuk membuat peta zona level ini, menurut Profesor Wiku, pemerintah mengacu pada ketentuan WHO yang menekankan pada empat aspek. Yang pertama adalah tren kasus, yakni tentang adanya penambahan atau penurunan kasus positif, kasus aktif, BOR, dan pelaksanaan tracing-testing. Yang kedua adalah kapasitas manajemen kesehatan, termasuk di dalamnya penyediaan bed tambahan di rumah sakit, pengadaan RS darurat, dan layanan telemedisin.

Aspek ketiga ialah tren mobilitas warga dan kesiapan masyarakat menjalankan protokol kesehatan dalam kesehariannya. Yang keempat terkait dampak ekonomi. Relaksasi akan mempertimbangkan kepentingan pelaku usaha kecil dan mikro, termasuk pedagang dan pelaku usaha informal lainnya. ‘’Namun, intinya relaksasi ini tidak menghapus pembatasan,” Profesor Wiku menambahkan.

Menanggapi banyaknya pertanyaan kemungkinan adanya bias data, yakni apakah tren penurunan yang ada itu bukan karena penyusutan angka spesimen testing selama beberapa hari, Profesor Wiku mengatakan, tekanan pandemi yang membuat para tenaga kesehatan pontang-panting, mungkin saja menyebabkan adanya keterlambatan pengiriman data. Pada saat yang sama, di tengah banjir pasien, testing betul-betul difokuskan kepada para kontak erat dan mereka yang tercatat sebagai suspek.

“Pada prinsipnya, jumlah testing harian ini sangat dinamis. Melihat data mingguan bisa memberi gambaran yang lebih utuh,” ujarnya.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, penambahan spesimen testing dari 160.000 ke 179.000 pada 22 Juli, tetap mengkonfrimasikan tren penurunan.

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *