Indonesia Menempati Urutan ke-13 Dunia dalam Pelaksanaan Vaksinasi

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta – Berulang kali Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa vaksin itu adalah game changer di tengah pergulatan pengendalian Covid-19.

Segala protokol kesehatan (prokes), strategi pembatasan sosial, dan kebijakan karantina tidak akan pernah cukup bila tak kunjung terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Bacaan Lainnya

banner 300250

“Vaksinasi itu membuat pembentukan herd immunity secara cepat dengan risiko yang paling rendah,” tutur Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kepada pers di Semarang, awal Juni 2021.

Herd immunity bisa terbentuk secara alamiah, tapi akan memerlukan waktu panjang setelah begitu banyak orang terinfeksi, dalam sebaran yang luas, yang akan menimbulkan korban besar.

Indonesia terus mempercepat pelaksanaan vaksinasi, baik melalui program vaksinasi reguler yang digelar pemerintah maupun vaksinasi gotong royong yang melibatkan para pelaku usaha.

Tiga jenis vaksin telah masuk ke Indonesia, yakni Sinovac asal Tiongkok, AstraZeneca dari Inggris (diproduksi di Korea), dan Sinopharm buatan Tiongkok.

Per 5 Juni 2021, Indonesia telah melakukan vaksinasi kepada 28,7 juta orang. Sebanyak 11,1 juta orang telah menjalani suntikan vaksin genap dua kali, dan 17,6 juta orang lainnya baru menerima satu kali suntikan.

Secara rata-rata para tenaga kesehatan (nakes) melakukan 265 ribu suntikan vaksin setiap harinya di seluruh penjuru tanah air. Realisasi vaksinasi ini memang masih jauh dari target 181,5 juta jiwa atau 70 persen dari populasi penduduk.

Dengan capaian tersebut, Indonesia menempati urutan ke-13 dunia dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19. Tiongkok memimpin dengan jumlah terbesar, yakni 763,07 juta dosis, disusul Amerika Serikat dengan 300,27 juta.

India telah menyuntikkan 225,57 juta dosis dan Brazil 71,43 juta dosis. Perhitungan dosis di sini adalah orang yang telah disuntik vaksin, baik suntikan pertama atau telah genap dua kali.

Peringkat berikutnya adalah negara-negara Eropa, yakni Inggris 67,28 juta dosis, Jerman 54,24 juta dosis, Prancis 39,57 juta dosis, dan Italia 37,67 juta dosis vaksin.

Sementara itu, Meksiko dan Rusia masing-masing dengan 34,46 juta dosis dan 30,61 juta dosis. Turki berada di urutan ke-11 dengan 30,58 juta lebih dosis, disusul Spanyol 28,8 juta dosis, dan berikutnya Indonesia 28,7 juta atau 16 persen dari target.

Untuk kawasan Asia Tenggara, dari sisi dosis Indonesia terbesar, proporsional dengan populasinya. Namun, dengan 4,05 juta  dosis yang telah disuntikkan, Singapore sudah menjangkau lebih dari 75 persen dari target, yakni penduduk dewasa.

Singapura dihuni oleh 6 juta jiwa, dan yang 20 persen adalah ekspatriat. Penduduk dewasa di negeri mungil itu sekitar 4 juta.

Secara umum, negara-negara vaksinasi di negara-negara Asean, di luar Indonesia, belum mencapai 10 persen dari target. Sempat melonjak pada April-Mei, namun kasus aktif Covid-19 di negeri tetangga, seperti Thailand, Filipina, dan Malaysia sudah mulai menurun.

Bahkan, Malaysia merasa perlu menempuh kebijakan karantina wilayah secara nasional sejak 1 hingga 14 Juni 2021.

Efektivitas vaksin tak diragukan lagi. Kempisnya Covid-19 berbanding lurus dengan tingkat vaksinasi, seperti terbukti di Inggris, Amerika Serikat (AS), Jerman, Spanyol, Turki, dan banyak lainnya.

Amerika Serikat yang Januari lalu panik dengan 250–260 ribu kasus baru per 24 jam, angkanya kini menyusut ke level 13–14 ribu per hari.

Angka kematian yang dulu di atas 3.000 per hari, kini turun ke 200–300 kasus per hari. Padahal, tujuh varian Covid-19 yang paling ganas ikut mengeroyok AS.

Semua negara kini berlomba memberikan layanan vaksinasi untuk rakyatnya. Vaksinasi berbanding terbalik  dengan transmisi Covid-19. Indonesia termasuk negara yang awal dalam memulai vaksinasi, sejak 13  Januari 2021.

Per akhir Mei 2021 secara kumulatif Indonesia telah menerima 75,91 juta dosis vaksin. Rinciannya, 3 juta vaksin jadi dari Sinovac, 6,41 juta dosis vaksin jadi dari AstraZeneca, 1 juta vaksin jadi dari Sinopharm, dan 81,5 juta dosis vaksin bulk dari Sinovac, Tiongkok. Setelah diproses di PT Biofarma  Bandung, ke-81,5 juta dosis bulk itu terkonversi menjadi 65,5 juta dosis vaksin jadi.

Dengan 75,91 juta dosis vaksin jadi yang diterima dan sekitar 40 juta dosis yang sudah dipakai, stok vaksin nasional cukup aman bagi pelaksanaan vaksinasi sampai dua bulan ke depan, sekalipun akan ada percepatan dalam pelaksanaannya.

Percepatan itu dilakukan dengan cara pemangkasan proses layanan vaksinasi, dari empat tahap menjadi tiga tahap, dan penyederhanaan teknis operasional di lapangan.

Seperti disampaikan Juru Bicara Kementeri Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, melalui kanal Youtube (31 Mei 2021), tahapan vaksinasi diubah. Pada awalnya, direncanakan ada empat tahap.

Tahap pertama ialah vaksinasi untuk 1,4 juta tenaga kesehatan, dan sudah selesai sejak Maret lalu. Tahap kedua adalah untuk lansia (21,5 juta) dan petugas layanan publik (17,4 juta). Tahap kedua ini masih berlanjut.

Tahap ketiga, menurut rencana semula ialah untuk masyarakat yang rentan secara geospasial dan sosial-ekonominya. Yang keempat ialah masyarakat umum, terutama para pelaku perekonomian.

“Untuk selanjutnya tahap ketiga dan keempat ini digabung. Dengan demikian, sekarang hanya ada tiga tahap,” ujar Siti Nadia. Tahap tiga (gabungan) itu ditargetkan untuk 141,2 juta penduduk.

Di lapangan, alur vaksinasi pun diringkas, dari empat meja menjadi dua meja. Pada alur sebelumnya, empat meja itu berupa, meja pertama untuk  pendaftaran dan verifikasi data penerima vaksinasi.

Meja kedua, petugas melakukan pemeriksaan dengan cara wawancara langsung (anamnesa) untuk melihat kondisi kesehatan umum, mengidentifikasi kondisi penyerta (komorbid), serta pemeriksaan fisik sederhana.

Di meja ketiga dilakukan penyuntikan vaksin, dan di meja keempat ada petugas pencatatan untuk observasi pascasuntikan vaksin.

Dalam alur yang baru, meja satu langsung skrining yang berlanjut pada penyuntikan vaksin. Meja dua tetap menjadi meja observasi pascapenyuntikan, tapi proses  menunggu observasi dibatasi paling lama 30 menit.

Sesuai dengan rencana percepatan itu, vaksinasi tahap tiga ini bisa berjalan paralel dengan tahap dua.

Pada klaster-klaster yang memerlukan tindakan segera, maka tahap tiga ini digelar seperti di Kabupaten Kudus yang mengalami “ledakan besar”, atau Bangkalan yang dianggap menyimpan potensi lonjakan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah berkirim surat meminta persetujuan Kementerian Kesehatan untuk melangkah ke vaksinasi tahap tiga.

Alasannya, kasus aktif selama satu pekan terakhir naik ke level 7,5 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang 5,3 persen. Secara absolut kasus positif Covid-19 di DKI tercatat 11,5 ribu kasus. Permohonan itu pun disetujui Kemenkes.

Maka, memasuki pekan kedua Juni 2021, Dinas Kesehatan DKI Jakarta membuka pendaftaran online bagi warganya secara umum untuk menjalani vaksinasi. Dengan alur yang lebih cepat, hanya dua meja.

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *