Kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus Naik Drastis

  • Whatsapp
Program vaksinasi COVID-19 Sinovac tahap pertama diberikan kepada para tenaga kesehatan dan dilakukan serentak di berbagai daerah di Indonesia.(Ahmad Fachry/WartaDepok.com
banner 468x60

Kudus – Pada Jumat 4 Juni 2021, akun corona.kudus.kab.go.id melaporkan bahwa hari itu kasus baru Covid-19 berada di angka 193 orang. Yang dinyatakan sembuh 111 orang, jadi tambahan kasus aktif 82 orang.

Laman yang sama juga menyebutkan 22 orang meninggal hari itu akibat infeksi Covid-19. Tak lagi disangsikan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, adalah spot hitam dalam peta pandemi.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Lonjakan kasus Covid-19 di Kudus tergolong mencengangkan. Pada hari itu tercatat ada 1.478 kasus aktif. Dari jumlah itu, 375 orang dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan dan 1.103 lainnya menjalani isolasi mandiri.

Secara kumulatif, sejak pandemi muncul pada Maret 2020, di seluruh Kabupaten Kudus ada 8.210 kasus dengan angka kematian 683 orang atau 8,3 persen–termasuk yang tertinggi di Indonesia. Sebab secara nasional, mortality rate adalah 2,8 persen.

Lonjakan angka Covid-19 itu kontan membawa Gubernur Ganjar Pranowo melakukan inspeksi mendadak ke Kudus, Senin (31/5/2021). Didampingi Bupati HM Hartopo serta dr Abdul Azis Ahyar, Dirut RSUD Loekmono Hadi, Gubernur Ganjar meninjau rumah sakit rujukan tersebut.

Betapa Ganjar terkejut saat menyaksikan sejumlah orang duduk-duduk di lorong rumah sakit, berdalih menunggu keluarganya yang menjadi pasien Covid-19. Mereka tak mengenakan alat pelindung diri (APD). Ganjar pun langsung melontarkan teguran. “Pak, ngapain sampean di situ. Nanti, positif juga,” ujarnya.

Ganjar juga mengingatkan, bila mereka tertular, mereka akan membawa virus ke orang lain lagi. Akan lebih banyak lagi yang akan terinfeksi. Lantaran itulah, Ganjar pun langsung menegur Bupati HM Hartopo dan Dirut RSUD dr Abdul Azis.

Gubernur Ganjar menyayangkan adanya pembiaran terhadap pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) itu. Ia langsung meminta agar tata kelola RSUD terkait Covid-19 dievaluasi dan SOP ditegakkan.

Kondisi di Kudus memang mencemaskan. Dengan luas 425 km2–merupakan kabupaten terkecil di Jawa Tengah—kawasan itu justru mencatatkan angka Covid-19 tertinggi di seluruh provinsi.

Tak urung Ketua Satgas Covid-19 Nasional, sekaligus Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Ganip Waristo pun giliran mengunjungi Kudus, Kamis (3/6/2021).

Seraya menyerahkan bantuan ke Pemkab Kudus berupa dua tenda isolasi, masker anak-anak, dan hand sanitizer, Letjen Ganip sempat meninjau RSUD Loekmono Hadi. Kala itu situasi yang seharusnya tak terjadi pun terlihat di depan mata.

Tampak keluarga pasien lalu lalang di ruang instalasi gawat darurat (IGD), tempat orang-orang yang reaktif terhadap tes antigen menjalani pemeriksaan klinis.

Ketua Satgas Covid-19 langsung memberikan teguran kepada manajemen RSUD. Letjen Ganip juga menyebut kondisi itu tidak sesuai dengan standar kekarantinaan WHO.

“Seharusnya orang tidak boleh keluar masuk IGD. Meskipun yang dirawat belum positif, tapi mereka sudah reaktif terhadap tes antigen,” ujar kepada pers.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Covid-19 Profesor Wiku Adisasmito dalam keterangan persnya Jumat (4/6/2021) sore menyatakan bahwa lonjakan Covid-19 di Kabupaten Kudus sangat signifikan.

Mengutip data pekan terakhir Mei 2021, Profesor Wiku menyebutkan bahwa kasus aktif di Kudus melonjak berlipat kali pada dua minggu terakhir.

Alhasil, bila secara rata-rata nasional kasus aktif Covid itu bertahan di level 5,56 persen, di Kudus angkanya mencapai 21,48 persen. Pasien berbondong-bondong ke RS rujukan yang ada di Kabupaten Kudus.

Bed occupacy ratio (BOR) di daerah  produsen rokok kretek itu melonjak. “Pada 1 Juni 2021, tingkat keterisian rumah sakit sudah di atas 90 persen. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan,” ujar Profesor Wiku.

Lonjakan penularan yang sangat tinggi itu, menurut Profesor Wiku, tak lepas dari mobilitas masyarakat yang meningkat sejak berlangsungnya perayaan lebaran pada 12-13 Mei, yang berlanjut dengan meriahnya tradisi kupatan pada hari H+7 setelah Idulfitri. Diduga, protokol kesehatan tak dilakukan secara memadai.

Kondisi itu diperparah oleh manajemen rumah sakit rujukan yang tidak terlalu ketat membendung transmisi virus. Penjagaan zonasi merah, kuning, hijau, di rumah sakit rujukan tak dilakukan secara disiplin. Zona pasien Covid dan non-Covid tak terpisah secara ketat.

Belum lagi, mobilitas keluarga pasien yang juga tidak dibatasi secara tegas. Situasi tersebut ikut memberikan sumbangan dengan terjangkitnya 189 tenaga kesehatan yang ditemukan positif Covid-19.

Profesor Wiku Adisasmito memberikan contoh terkait buruknya penanganan pasien corona di Kudus. Menurutnya, masih ada pasien terkonfirmasi positif Covid-19 yang didampingi oleh  keluarga saat menjalani perawatan di rumah sakit.

Hal itulah yang sempat dipergoki Gubernur Ganjar Pranowo. Sialnya, mereka dapat keluar masuk rumah sakit tanpa skrining. Maka, bukan hal yang muskil bila sejumlah rumah sakit rujukan itu justru menjadi ajang penularan.

Ketika mengunjungi Kudus, Letjen Ganip Warsito telah pula menyampaikan arahan ke Pemkab Kudus. Yang pertama, pelaksanaan prokes yang ketat.

Kedua, pelaksanaan PPKM Mikro dilakukan secara konsisten. Ketiga, perbaikan pada tata kelola RS rujukan terkait karantina pasien. Satgas juga merekomendasikan penambahan ruang rawat yang terisolasi.

Kudus saat ini menjadi episentrum Covid-19 di Jawa Tengah. Gubernur Ganjar Pranowo masih harus mengontrol beberapa daerah lain, terutama dua zona merah baru Kabupaten Brebes dan Sragen.

Di Brebes ada 637 kasus aktif, dengan 86 orang dirawat dan 552 orang lainnya menjalani isolasi mandiri. Sedangkan di Sragen, ada 390 kasus aktif.

Selain itu, Gubernur Ganjar pun menandaskan, pemantauan juga terus dilakukan terhadap kondisi di Kabupaten Cilacap. Diketahui, Cilacap merupakan lokasi ditemukannya kasus infeksi varian India B-1617, yang terbawa oleh awak kapal asal Filipina.

Mereka mendarat ke Cilacap 25 April silam dengan muatan gula rafinasi asal India. Ada 14 orang ABK yang terindentifikasi positif Covid-19 dan dirawat di RSUD Cilacap.

Seorang ABK Filipina meninggal. Dan tak lama kemudian secara berangsur ada 52 tenaga kesehatan di RSUD Cilacap dinyatakan positif Covid-19. Namun, dari pemeriksaan genome sequencing mereka diketahui tertular Covid-19 lokal.

Dari jumlah itu, 45 dinyatakan sembuh, dan per 4 Juni tinggal tujuh penderita yang masih menjalani perawatan. Secara umum kondisi mereka sudah membaik.

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *