Menggali Sejarah Keramat Sambi, Terusir Akibat Dianggap PKI, Hingga Terancam Pembangunan UIII

banner 468x60

Depok, halaman.co.id – Sebagai Daerah Penunjang Ibu Kota, Depok memiliki daya tarik tersendiri bagi para penjelajah, terutama dengan situs-situs sejarah dan para tokoh yang berperan secara langsung.

Nama-nama seperti Margonda, Arif Rahman Hakim hingga Beji diketahui adalah para pahlawan yang berasal dari Kota berjuluk Belimbing ini. Berkat pengabdian mereka, kini nama-nama tersebut diabadikan menjadi nama ruas jalan besar di kota yang berpenduduk sebanyak 3 jutaan jiwa.

Selain nama besar diatas, di Wilayah Cimabggis, Kota Depok ternyata ada seorang tokoh masyarakat yang konon dikenal sebagai bengkong (tukang sunat), namanya biasa dipanggil Mpi Siun.

Mpi Siun dikabarkan adalah salah satu pelaku sejarah yang menyebarkan agama Islam di Kota Depok.

Keturunan Mpi Siun menyebut leluhurnya masih keturunan dari Raden Walangsungsang yang memiliki gelar Prabu Cakra Buana atau Mbah Kuwu Cirebon. Mbah Kuwu Cirebon sendiri tidak lain adalah anak dari Prabu Siliwangi.

Mengenai waktu, belum diketahui secara pasti kapan Mpi Siun meninggal dunia. Namun, saat ini pusara Mpi Siun menjadi salah satu situs sejarah dan diberi nama ‘Kramat Sambi’.

Berada di lahan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Kramat Sambi terancam tergusur dengan adanya pembangunan UIII dibawah kendali Kementrian Agama (Kemenag).

Kini, makam tersebut sedang diperjuangkan agar tak tergusur oleh proyek pembangunan UIII, sehingga tetap menjadi salah satu situs sejarah yang ada di Kota Depok.

Terdapat 3 makam dalam situs ‘Keramat Sambi’ yakni Mpi Siun, pengawal Mpi Siun dan Istri terakhirnya.

Menurut sejarawan lokal yang juga masih keturunan Mpi Siun, Taam Sumarna (80), nama ‘Keramat Sambi’ berasal dari pohon Sambi yang tumbuh disekitar makam.

Kong Taam, panggilan sehari-hari memgatakan dahulu daerah tersebut bernama Bojong Malaka, nama Malaka sendiri diaebutkan karena daerah itu banyak pohon malaka yang kini sudah tiada.

Keturunan kelima Mpi Siun, Taam Sumarna (80)

“Tapi berkembang nya zaman dan keadaan banyak oranng yang menyebutnya keramat sambi yang kemudian warga setempat mengaitkannya dengan kata keramat sehingga nama tersebut muncul secara alamiah,” ujar Kpng Taam, Kamis (30/7/2020).

Taam juga menceritakan, dahulunya disekitar makam terdapat pemukiman warga yang terpaksa digusur dengan alasan warga setempat menganut paham komunis (PKI).

Sementara versi lainnya, warga Bojong Malaka itu di gusur juga karena ada dalih perluasan lahan pemancar Radio Republik Indonesia (RRI).

“Disitu perkampungan, tapi digusur dengan alasan warga disitu PKI, padahal yang PKI itu cuma satu orang. Pernah juga waktu datang musim panas panjang terjadi kebakaran lahan sekitar makam keramat Mpi Siun, sekelilingnya hangus terbakar cuma pohon sambi dan pohon ujanan (sebutan orang pribumi) itu aja yang gak kebakar,” cerita Taam dengan terbata-bata.

Setelah berpamitan dengan Kong Taam, halaman.co.id berhasil menemui saksi sejarah selanjutnya, Mak Haji Indun nama dan panggilan akrabnya, usianya kini 77 tahun.

Mak Indun bercerita, kala itu ia sempat menyaksikan perang disekitar tempat tinggalnya sekarang, yang pada jaman dahulu sering dijadikan tempat kumpul ‘Jawara Betawi’.

Mak Indun mengakui, semasa hidup, baik dia ataupun Taam tidak sempat bertemu dengan Mpi Siun, itu karena mereka adalah keturunan kelima dari sang ‘jago’ sunat tersebut.

Mak Indun (77), Saksi yang Juga Keturunan Kelima dari Mpi Siun

Mak Indun hanya mendengar nama Mpi Siun dan perjalanan leluhurnya itu lewat cerita ayah kandungnya, Haji Tinggi yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh Depok.

Lewat cerita ayahnya, Mak Indun mengetahui Mpi Siun adalah seorang Ulama dan seorang Bengkong yang jika kemana-mama menunggang kuda putih.

“Dulu Bapak sering bilang Mpi Siun kalo kemana-mana suka naik kuda putihnya,” kenang Mak Indun.

Menjelang Senja, reporter halaman.co.id bergegas meninggalkan Mak Indun dan keluarga dan melanjutkan dengan berziarah ke makam Keramat Sambi, tempat yang sudah dinantikan.

Melewati Jalan Juanda, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok tak jauh dari sana kami memasuki sebuah jalan kecil berkelok, dengan bebatuan akibat rusaknya jalanan yang tak diperhatikan pemerintah setempat. Sekitar 200 Meter berjalan, terlihat sebuah bangunan megah yang kini tengah dalam proses pekerjaan.

Bangunan megah tersebut ialah gedung UIIi. Pembangunan itu sekaligus menjadi latar belakang pemandangan kami setelah sampai di situs makam Keramat Sambi.

Adanya pembangunan UIII adalah masalah bagi Padepokan Muda Satria Betawi yang selama ini merawat serta menjaga situs itu, pasalnya mereka memiliki masalah soal kepemilikan tanah.

“Kita takutnya, makam ini tersentuh oleh pembangunan UIII,” kata Ketua Padepokan Muda Satria Betawi, Ahmad Sastra.

Singkat cerita, Ahmad berpaling lalu menyediakan saya kopi hitam, yang dibuat oleh tangannya sendiri. Perbincangan seakan dibuat santai olehnya, meski dalam.

“Kalo situs makam keramat sambi ini sampai digusur atau direlokasi maka nilai sejarahnya akan hilang,” keluh Ahmad sesaat usai menenggak kopi buatannya itu.

Ahmad menunjuk sebuah patok merah yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari pagar makam Keramat Sambi. Dia memberitahukan, patok itu adalah tanda sejauh mana pembangunan gedung megah itu akan berdiri

Sebelum pulang, kami dipersilahkan melihat makam tua yang dibuat dengan gaya indoor (dalam ruangan), dan itu adalah makam Mpi Siun yang dijaga juru kunci, Abah Encum.

Sayangnya, keinginan kami mengabadikan gambar Mpi Siun tidak mendapat izin dari juru kunci makam, karena dia menilai apa yang kami lakukam tidak disukai sang empunya makam.

Ingin Kelestarian Situs Keramat Sambi Dijaga

Untuk menjaga dan melestarikan situs tersebut, Ahmad mengatakan telah melakukan berbagai upaya, salah satunya beraudiensi dengan Komisi D, DPRD Kota Depok sebagai legislatif yang memabwahi bidangnya.

Ahmad mengaku DPRD sendiri telah mengagendakan kunjungan kerja pada Rabu, 5 Augustus 2020 mendatang ke lokasi Keramat Sambi.

Dia juga berharap apa yang sedang diperjuangkan tersampaikan kepada Wali Kota Depok, Mohammad Idris yang juga masih berstatus sebagai Tokoh Kpta Depok.

Ahmad juga sangat mengharapkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat yg ada di Kota Depok, termasuk dukungan dari tokoh Depok Asli yang juga sebagai Pembina Lembaga Budaya Tradisional ‘Betawi Ngoempoel’, Nuroji.

Betawi Ngoempoel sendiri adalah lembaga tempat bernaung Padepokan Satria Muda Betawi, sementara Nuroji, selain adalah tokoh asli Tanah Baru, Beji juga menjabat sebagai Anggota KOMISI X DPR RI dan membidangi kebudayaan.

“Semoga saja Bang Haji Nuroji dapat membantu perjuangan kami,” ujar Ahmad.

Sementara Wakil Ketua Padepokan Satria Muda Betawi, Setya Laga menyebut Keramat Mpi Siun adalah bukti sejarah kota Depok. Ditegaskan di Keramat lah cikal bakal Kota Depok yang belum banyak orang ketahui.

Salah satu tokoh masyarakat Cisalak lainnya, Daniel Pelupessy juga mengharapkan agar Pemerintah dapat memperhatikan apa yang kini tengah mereka perjuangkan.

“Saya berharap agar keramat sambi dapat diperhatikan oleh Pemerintah sehingga kelak dapat menjadi cagar budaya,” pesan Daniel Pelupessy kepada kami.

Usai Adzan Magrib, kami berpamitan dengan beberapa anggota Padepokan Muda Satria Betawi yang berkesempatan hadir. Terimakasih semuanya. Cr.1 Gerr

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *